1. Pada awalnya

Tak terasa telah 10 bulan aku merantau di Singapura. Disebut sebagai salah satu dari 3 city-state yang tersisa di dunia selain Monaco dan Vatican City. Irama kehidupan disini terasa cepat, semuanya serba efisien dan tanpa basa-basi. Bisa menjadi culture shock bagi siapapun yang baru disini. Walaupun masih termasuk dalam area Waktu Indonesia Barat, tapi Singapura menganut jam GMT+8, sehingga jam 7 pagi masih gelap, dan jam 7 malam masih terang. Terasa aneh awalnya.

Kutatap layar notebook di depanku. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, kantor telah sepi. Tapi pekerjaan masih begitu banyak dan hampir semuanya masuk kategori “urgent-important”. Pikiranku sudah terasa penat. Semuanya seperti berebutan menarik perhatianku, minta diselesaikan secepatnya.

Pulang ke rumah, langsung menghidupkan notebook kembali, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan dari rumah. Membuat report, membalas email, mengadministrasi server, dll. Boleh dibilang notebook hampir hidup 24 jam non-stop. Tidak terhitung berapa belas ribu email yang telah mampir ke dalam inboxku.

Tiba-tiba instant messaging internal kantor berbunyi.
“Hi, you’re still at the office?”, tanya seseorang. Ia adalah counterpart ku di US. Di Singapura malam, di sana mereka baru saja mulai kerja.
“Yeah…, wazzup?”, jawabku singkat, sambil menunggu-nunggu rasanya dia akan menanyakan sesuatu laporan.
“About last week report, have you sent it?”
“I’m on it, I’ll send it asap to you”, jawabku sambil menghela nafas. Bakalan begadang lagi deh pikirku.
“Great, thanks a lot”

Pikiranku berkelebat mengingat ketika pertama kali mendapat telpon dari bagian recruitment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>