2. Halo..? Yes..?

Pikiranku berkelebat mengingat ketika pertama kali mendapat telpon dari bagian recruitment.

Siang itu seperti biasa aku sedang menikmati gado-gado langganan depan kantorku. Boleh dibilang hampir tiap hari aku makan gado-gado. Bukan apa-apa, pertama memang rasanya enak banget, relatif murah (Rp. 6.000 lengkap pakai telor dan nasi), sehat (sayur-mayur), dan gampang belinya. Saking sudah rutinnya, cukup angkat tangan dari seberang jalan tanpa berkata apapun, si abang sudah tahu pesananku yang super pedas dan akan diantar ke kantor.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi, di layar tertulis “no number”.
“Hmm.. siapa nih yang iseng?!”, pikirku sebal.
“Halo?”
“Hello, may I speak with Mr. Priyanto, please?”, terdengar suara dalam bahasa inggris dengan logat asia.
“Yes, this is Fajar speaking”, jawabku mulai gugup.
“This is Sh… (ga jelas namanya siapa) from E… (ga jelas lagi). We would like to know if you are free for interview tomorrow”.
Ditengah-tengah ketidakjelasan itu, yang tertangkap ditelingaku hanyalah keyword “interview” dan “tomorrow”.
“Uh.. yes. Sure, tomorrow is fine”
“How about three o’clock tomorrow?”
“Three o’clock. Ok”
“Ok. My colleague S… (ga jelas) will call you tomorrow”
“Err.. ok. See you”
“Bye”

Kutatap bergantian antara handphoneku dan gado-gado yang tersisa setengah. Masih tidak dapat kupercaya, interview? Besok? Wah! Dari mana tadi telponnya? Tidak jelas perusahaan apa yang disebutkan tadi. Apa ini salah satu hasil dari CV yang kumasukkan ke website lowongan-lowongan kerja di internet? Mungkin juga.

Segera kulanjutkan kembali menghabiskan gado-gadoku. Sambil menerka-nerka apa yang akan ditanyakan besok di telepon interview tersebut.

Perlahan-lahan, rasa senang itu bercampur dengan rasa was-was dan khawatir. Bagaimana kalau aku tidak dapat menangkap bahasa inggris mereka? Bagaimana kalau mereka menanyakan hal yang aku tidak tahu/lupa? Bagaimana kalau aku tidak dapat menjawab dengan lancar? Dll…

Segera kutinggalkan gado-gado yang tinggal 1/4. Tiba-tiba saja perutku terasa kenyang walaupun seringkali sehabis gado-gado aku masih menambah gorengan tahu dan pisang.

Kuraih buku teori Linuxku yang tebal itu.. dan aku mulai menyisir isinya sambil menerka-nerka apa yang akan mungkin ditanyakan di dalam interview besok…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>