4. Keberuntungan = Persiapan + Kesempatan = Anugrah

Dengan tangan sedikit dingin karena grogi dan menghela nafas panjang, kujawab handphoneku.
“Halo….?”

“Hello, Mr. Priyanto?”, terdengar suara seorang laki-laki di ujung telpon dengan logat asia.
“Yes, this is Fajar speaking”, jawabku dengan suara se-PD mungkin.

“How do you do? This is S.. from E.. (masih belum jelas juga namanya dan perusahaan apa). Is it good time for you for the interview?”
“How do you do. Yeah sure”

“Can you please tell me your experience with Linux?”
“Yes, certainly”, jawabku dengan pasti, sebab memang ini adalah salah satu pertanyaan yang telah kuduga-duga akan ditanyakan.

“I first encountered Linux around 2001. But it is not until 2004 that I really considered Linux as my life, that was the time after I attended AsiaSource by UNDP in Bangalore”

“Really? Please tell me what made you think like that”, ia terdengar tertarik karena sepertinya tidak menduga akan kujawab seperti itu.

“I met many people over there, from all kind of backgrounds. From pure geeks to social workers. AsiaSource had shown me that Linux was more than a superb Operating System, Linux as part of Open Source was a way of life. I’ve been working as a Linux engineer and instructor for almost 2 years now.”

“Hmm.. ok. Now, let’s say a company wants to implement Linux. Providing services like A, B, C, and D. Can you please tell me the steps to achieve that? From the very start as if the server is brand new”

Dalam hati aku sedikit melonjak, karena topik-topik tersebut adalah materi sehari-hariku ketika mengajar, maka aku mulai memberikan penjelasan dengan tidak lupa kutambah hal-hal yang kuperoleh dari pengalaman implementasi di perusahaan-perusahaan.

Tapi ternyata tidak segampang yang kukira. Sebab semakin kuberikan penjelasan, semakin detail aku ditanya. Hal-hal detail yang biasanya hanya kujelaskan di kelas ketika ada peserta training yang telah cukup berpengalaman.

Sang pewawancara ternyata jago sekali Linux. Yang unik, dari cara dia bertanya stylenya jadi seperti diskusi, sebab memang implementasi Linux bisa melalui banyak metode. Kutambahkan pula dos-n-don’ts dari sisi sekurity Linux. Hal ini kelihatannya cukup dihargai.

Yang mengherankan, rasa gugupku hanya di awal wawancara. Entah dari mana ketenangan itu. Saking konsentrasinya, aku tidak ingat lagi akan keadaan sekelilingku, yang ada hanyalah aku dan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Mungkin memang benar seperti kata orang-orang bijak. Potensi penuh seorang manusia baru akan muncul ketika ia dihadapkan pada sebuah keadaan yang kritis. Keadaan yang mengharuskannya “do or die”, “to be or not to be”.

“Well, I think that’s all I need to know. We will inform you the result.”
“Thank you”
“Thanks, bye”

Ketika kulihat handphoneku, tidak terasa telah hampir satu jam wawancara berlangsung. Untung saja sebagai persiapan handphoneku kusambungkan ke charger selama wawancara. Tidak lucu bila ditengah-tengah batere habis. Bukan apa-apa, handphoneku telah cukup berumur.

Udin ternyata sudah tidak di dalam ruangan. Saking konsennya aku tidak sadar kapan ia keluar ruangan. Suasana sunyi senyap sebab memang “kantorku” adalah di ruangan kelas, jadi memang tidak ada orang lain sehari-hari disitu bila sedang tidak ada peserta training.

Di tengah kesunyian itu terbayang kembali jalannya wawancara. Tiba-tiba muncul keraguan di benakku. Apakah jawabanku tepat? Rasa-rasanya iya. Tapi… kuingat pula beberapa kali ia mengkoreksi jawabanku. Aduh, iya. Beberapa kali memang ada yang kurang tepat atau memang aku tidak tahu. Apakah wawancara ini cukup baik hasilnya? Bagaimana kalau tidak? Pasti banyak kandidat lainnya yang di wawancara. Masih banyak yang lebih lancar bahasa inggrisnya. Kuingat beberapa kali aku minta ia mengulangi kalimatnya karena tidak jelas kutangkap. Aduh.. Beberapa kali pula aku terpaksa merangkai ulang kalimatku karena aku menggunakan susunan kata-kata yang tidak lazim dalam bahasa inggris. Bagaimana kalau…

Kekhawatiran itu sungguh menyiksaku. Tidak terasa tiba-tiba aku telah memejamkan mata dan larut dalam doa.

“Tuhan, Engkau tahu cita-citaku. Terima kasih atas kesempatan yang telah Kau berikan padaku”
“Terima kasih atas bimbinganMu dalam wawancara tadi yah, Tuhan”

Aku tidak dapat berkata-kata lagi. Namun ditengah saat teduh itu, perlahan-lahan rasa khawatir itu berganti menjadi rasa syukur. Rasa syukur yang menyelimuti seluruh hati ibarat hembusan angin kepasrahan.

Entah dari mana, di dalam hatiku terdengar suara,
“You’ve done your best. God will do the rest”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>