5. Arti sebuah perjalanan bernama kehidupan (I)

Bunyi warning low-batt notebookku membuyarkan lamunanku. Tidak terasa waktu telah hampir pukul 23.00. Kutatap catatan-catatan, sticky notes, dan laporan-laporan yang berserakan di meja kerjaku. Kuputuskan untuk meneruskan beberapa di rumah. Segera kututup notebookku dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Akupun bergegas meninggalkan kantor dengan sebelumnya mematikan semua lampu.

Aku memang harus bergegas sebab kereta terakhir dari sebagian besar stasiun MRT (Mass Rapid Transport) adalah pada tengah malam, dan aku masih harus berjalan kira-kira 15 menit dari kantor ke stasiun MRT. Salah satu yang kusuka dari Singapura adalah sistem transportasinya yang aman dan nyaman. Memang pada awalnya rada repot dan capek sebab kemana-mana harus selalu berjalan kaki terlebih dahulu. Disini tidak ada moda transportasi “jarak pendek yang praktis” seperti ojek dan bajaj. Kemana-mana setidaknya kita harus berjalan terlebih dahulu beberapa ratus meter, baik itu ke halte bis ataupun stasiun MRT. Tetapi lama-kelamaan terbiasa juga berjalan kaki.

Jam menunjukkan pukul 23.30 ketika akhirnya aku duduk di dalam kereta yang bersih dan nyaman itu. Udara sejuk dari AC segera menghapus peluh yang muncul sehabis berjalan. Kuperhatikan sekelilingku. Walaupun waktu telah larut, tapi di dalam gerbong masih terdapat cukup banyak penumpang.

Kulirik ke penumpang sebelahku, seorang office worker kira-kira setengah baya. Ia sedang asik menonton berita di smartphonenya. Aku tahu tidak sopan untuk ikut menonton diam-diam, tapi aku tidak dapat menyembunyikan kekagetanku ketika di layar kulihat headlines “Michael Jackson Died”.

“Hah?! Michael Jackson meninggal dunia?”, kataku dalam hati.
“Karena apa?”

Kucoba cari tahu dengan terus melirik berita di smartphone penumpang sebelahku itu, tapi karena tidak ada suara (ia menggunakan earphone) aku tidak berhasil tahu lebih lanjut. Lagipula sang pemilik smartphone kelihatannya tidak suka aku “nebeng”. Sambil mendengus ia kemudian menggeser smartphonenya lebih ke arahnya sehingga aku tidak dapat melirik lagi tanpa benar-benar menunjukkan bahwa aku ikut menonton.

Dengan tersenyum kecut karena malu, aku pun memasang earphone dari handphoneku untuk mendengarkan musik. Di dalam handphoneku cuma ada 2 jenis lagu. Jenis pertama adalah lagu-lagu rohani dari Nikita, dan jenis kedua adalah lagu-lagu house music yang berdebum-debum :) Kali ini kupilih untuk memutar lagu Nikita. Musik dan suara Nikita selalu dapat memberikan ketenangan tersendiri bagiku.

Di tengah-tengah musik yang mengalun, kualihkan pandanganku ke sekeliling kembali. Di depanku duduk seorang “uncle” yang terlihat cukup berumur. Ia memakai kaos polo yang telah pudar warnanya dan celana pendek. Sandal plastiknya terlihat berdebu dan kusam. Ia memejamkan mata, mungkin berusaha tidur beberapa menit. Rasa lelah tergambar jelas di raut wajahnya. Warna dan kerut wajahnya seperti bukti nyata bahwa ia telah mengalami kehidupan yang keras bertahun-tahun.

Namun di ujung bangku sebelah lagi, terlihat hal yang bertolak belakang. Sepasang muda-mudi asik bermesraan. Di Singapura sini memang rada bebas pergaulannya. Setidaknya itu yang kurasakan bila menggunakan norma Indonesia.

Kedua hal yang kontrast ini, dan berita meninggalnya Michael Jackson membuatku tiba-tiba bertanya-tanya.
“Apakah arti hidup ini?”

Orang-orang bilang bahwa tidak ada yang pasti di dunia. Tetapi bukankah merupakan kepastian bahwa kita semua cepat atau lambat akan meninggalkan dunia ini? Tidak perduli tua muda, kaya miskin, terkenal ataupun tidak. Hanya masalah “bagaimana” dan “kapan”.

Kuingat beberapa tahun lalu, Ibu S, kepala divisi tempatku bekerja di sebuah bank swasta pernah berkata padaku.
“Hidup ini ibarat sekolah. Kita menjalaninya dengan harapan mencapai sesuatu cita-cita”
“Ada saatnya kita dapat bermain-main dengan teman-teman, tapi ada saatnya pula kita harus serius mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugas-tugas.”

“Bagaimana kalau kita santai-santai saja dan tidak mengerjakan tugas-tugas itu?”, tanyaku sambil berusaha memasang sikap serius.

“Maka kehidupan akan keras kepada kita”
“Semuanya itu adalah pilihan kita, mau mengambil jalan yang mana”

“Bagaimana kita tahu bahwa kita mengambil jalan yang salah atau benar?”, tanyaku bingung.

“Benar atau salah itu tergantung di mata masing-masing. Yang lebih penting adalah konsekuensi yang harus dijalani dari setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup ini”

“Ohh begitu..”, kataku mengangguk-angguk, walaupun aku yakin ia tahu dari raut mukaku bahwa saat itu aku tidak dapat menangkap apa arti dari kalimat itu.

Kutatap kembali sang uncle. Sebersit rasa iba mengiris hatiku.
“Apakah ia telah berhasil mencapai cita-citanya? Ia terlihat lelah sekali, apakah ia masih harus bekerja di usianya sekarang ini? Mengapa selarut ini masih di perjalanan?”

Entah kenapa, tiba-tiba pertanyaan-pertanyaan itu bertubi-tubi berbalik ke diriku.
“Bagaimana dengan aku? Mengapa aku bekerja sekeras ini?”
“Is it worthy? Apa yang aku cari dalam hidup ini?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>