7. Doa syukur di antara bintang-bintang

Pukul telah menunjukkan lewat tengah malam ketika aku sampai di “rumah”. Rumah disini maksudnya adalah sebuah unit apartemen HDB (Home Development Board). Walaupun namanya apartemen, tapi bukan seperti pengertian apartemen di Indonesia yang serba mewah. HDB disini adalah unit-unit apartemen sederhana. Bila yang dimaksud adalah apartemen yang mewah, disini disebut sebagai condominium.

Masuk ke dalam kamar, kulihat istriku telah tertidur. Di meja terlihat kertas-kertas kerjanya tersusun dengan rapi disamping notebook. Telah hampir sebulan ini ia bekerja sebagai accounting finance di sebuah group restoran. Kadang-kadang aku melihat pekerjaannya lebih berat dari pekerjaanku.

“Suasana” rumah yang familiar dan nyaman segera menyerangku dalam bentuk kantuk. Tapi aku teringat akan pekerjaan-pekerjaan urgent-important yang tadi kuputuskan untuk dikerjakan di rumah sebab harus segera diselesaikan.

Shower air hangat memberikan sedikit rasa kesegaran. Aku pun segera menghidupkan kembali notebook dan mulai bekerja. Aku berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin yang bisa kukerjakan sebab aku tahu cepat atau lambat rasa kantuk itu akan terlalu berat untuk kuusir.

Benar saja, pukul menunjukkan pukul 1.30 pagi ketika kuputuskan untuk mensave semua laporan-laporanku dan menutup layar notebook. Mataku telah pedas sekali karena kantuk.

“Daripada salah bikin laporan, mendingan lanjutkan kembali besok pagi”, kataku dalam hati.

Aku pun mematikan lampu dan membaringkan badan di tempat tidur. Rasanya nyaman sekali akhirnya bisa beristirahat. Kuingat kembali kejadian-kejadian selama seharian. Sedikit rasa stress muncul di pikiranku ketika mengingat semua tugas-tugas yang urgent-important itu, tapi kuingat pula hasil perenungan selama di kereta tadi akan arti hidup ini. Tanpa sadar ku tersenyum.

“Hidup yang bermakna dan membahagiakan”

Rasa kantuk telah hampir mengalahkanku ketika ku ingat untuk berdoa sebelum tidur. Sebuah doa yang sederhana.

“Tuhan, selamat malam”
“Puji syukur kami panjatkan ke hadiratMu yah Tuhan, atas segala kasih karuniaMu kepada kami”
“Terima kasih atas pengampunanMu atas dosa-dosa kami, dan bimbinganMu sehingga kami tidak mengulanginya lagi”
“Terima kasih atas kasihMu kepada istriku tercinta, atas rekan-rekan kerja baik yang kau sediakan baginya di tempat kerja yang baru”
“Terima kasih atas kasih penyertaanMu kepada orang tua kami. Papi Mami Jakarta, Papi Mami Bogor”
“Terima kasih atas berkatMu kepada saudara-saudara kami”.
“Terima kasih atas berkatMu kepada perusahaan tempat kami bekerja, dan rekan-rekan kerja kami”
“Terima kasih atas hikmat dan akal budi yang kau berikan pada kami sehingga kami dapat menyelesaikan pekerjaan kami dengan baik”
“Terima kasih karena Engkau telah menjadikan kami berkat bagi orang-orang disekeliling kami hanya demi Nama KemulianMu saja, yah Tuhan”
“Terima kasih yah Tuhan, dalam namaMu kami berdoa dan mengucap syukur”
“Amin”

Dari tempatku tidur, kupandang keluar jendela. Ternyata berbeda dengan hari-hari biasanya, tumben kali ini dapat kulihat bintang-bintang bertaburan berkilau di langit malam jernih yang tak berawan.

“Majestic!”, bisikku dalam hati sambil tersenyum. Kupandangi keindahan alam semesta itu beberapa saat, sampai akhirnya kupejamkan mata hanyut ke dalam mimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>