8. Sate.. soto ayam.. yang.. menegangkan (I)

Seperti biasa waktu telah menunjukkan pukul 23.00 ketika ku melangkahkan kaki ke arah stasiun MRT. Stasiun MRT di dekat kantorku ini berfungsi pula sebagai terminal bis. Jadi MRT ada di lantai 2, dan di bawahnya adalah stasiun bis.

Aku bisa menggunakan kereta ataupun bis. Tergantung sikon. Interval kereta adalah setiap 5-10 menit, sedangkan interval keberangkatan bis sekitar 15-30 menit. Di tengah-tengah pertimbangan itu, antara naik kereta atau bis – bila ingin naik kereta lurus kemudian naik elevator, atau belok kanan bila ingin naik bis. Di arah kanan itu, dari kejauhan terlihat beberapa orang mulai bersiap-siap naik ke bis nomor 66, bis yang biasa kupakai untuk pulang. Yang enaknya naik bis ini adalah ia langsung sampai ke depan halte depan apartemenku. Jadi sangat praktis.

Aku pun berlari-lari ke arah bis yang perlahan-lahan mulai mundur untuk siap-siap keluar dari terminal.

Pintu bis telah tertutup, tapi beruntung supir bisnya baik. Melihat aku tergopoh-gopoh berlari, ia memberhentikan bis dan membuka pintu hidroliknya.

Dengan sedikit terengah-engah, aku mengeluarkan dompet dan menempelkannya ke tempat pembayaran sampai di alat itu tercantum sisa saldo kartu Ezlinkku dan berbunyi “Tut!”

“Thank you”, kataku benar-benar berterima kasih, sebab bila aku tertinggal bis ini, aku harus menunggu sekitar 15-30 menit lagi, apalagi saat itu sudah hampir tengah malam, bisa-bisa harus naik bis terakhir pas tengah malam. Sang supir hanya mengangguk sambil tersenyum.

Di dalam bis hanya ada beberapa orang. Aku pun mencari tempat duduk di depan televisi. Biasanya ada acara lucu-lucuan, lumayan untuk mengisi waktu. Bila menggunakan bis, waktu perjalanan dari terminal Jurong East ini sampai ke Little India bisa memakan waktu hampir 1 jam.

Bis pun mulai bergerak meninggalkan terminal. Udara sejuk dari AC menerpa wajahku. Bis dengan televisi ini adalah bis tipe lama dimana lampu di dalam bis tidak terlalu terang. Jadi sedikit redup-redup begitu. Berbeda dengan bis yang lebih baru dimana lampunya terang benderang, tapi tidak mempunyai televisi di dalamnya.

Jalanan telah sepi dan bis pun melaju dengan lancar. Di televisi ternyata tidak ada acara menarik. Ditambah tiupan angin sejuk dari AC membuatku mulai terserang kantuk. Kulirik ke jam tanganku, pukul 23.40

“Hmm.. masih ada waktu 45 menitan untuk sampai”, kataku dalam hati sambil kemudian memejamkan mata untuk tidur-tidur ayam.

Tidak terasa berapa lama aku memejamkan mata, tapi tiba-tiba aku membuka mata dengan kaget.
“Dimana ini?”, pikirku dengan jantung mulai berdegub kencang.

Suasana remang-remang. Aku masih ada di dalam bis, tapi bis telah berhenti di suatu terminal. Tidak ada siapa-siapa lagi.

“Astaga, aku pasti ketiduran!”, pikirku dengan sedikit panik.
“Tapi mengapa aku tidak dibangunkan? Dimana ini?”, kataku sambil turun dari bis. Seseorang sepertinya membiarkan pintu bis terbuka.

Kulihat keseliling, bis-bis berjejer di sepanjang terminal yang gelap. Kulihat jam tangan, waktu menunjukkan pukul 2.30 pagi.

“Mengapa aku bisa tertidur? Mengapa tidak ada yang membangunkan aku?”, kataku mulai mengomel-ngomel sendiri dalam hati. Dengan langkah cepat aku menunju ke arah jalan raya. “Bedok Bus Interchange” kulihat tulisan di depan jalanan masuk terminal, ternyata benar, aku tertidur sampai ke terminal.

Aku menyusuri jalan ke arah pertokoan di kejauhan. Sambil berjalan itu, aku mulai merasakan keanehan.
“Kenapa sepi sekali yah?”

Baru aku menyadari, semenjak terbangun dari bis, keluar terminal, sampai sejauh ini, aku belum melihat seorang pun. Bahkan di jalanan pun tidak ada satu kendaraan pun yang lewat. Bukankan Singapura merupakan kota metropolitan yang tidak pernah tidur? Aneh sekali. Di tengah kesunyian itu hanya bunyi langkahku di atas trotoar yang terdengar. Suara jangkrik saja tidak ada. Sunyi senyap.

Tapi beruntung kekhawatiranku tidak berlangsung lama, sebab semakin dekat ke arah pertokoan tersebut, akhirnya kulihat orang juga, tepatnya sebuah tempat makan. Pertokoan di sekelilingnya telah sepi dan agak gelap, tapi tempat makan itu terang benderang. Ketika semakin dekat dapat kulihat tulisan “Original Indonesian Satay”

“Waw!”, tidak sadar aku terkesima.
“Ada yang jualan sate Indonesia disini? Jam segini juga masih buka? Buset!”, kataku heran sambil senang, sebab memang semakin dekat dapat kucium harum asap sate. Kulihat seorang Bapak sedang mengatur arang di panggangan.

“Selamat pagi, masih buka Pak?”, kataku dengan PD menggunakan bahasa Indonesia dengan asumsi sang Bapak pasti bisa bahasa Indonesia juga. Dan tebakanku tidak salah.

“Pagi-pagi! Masih.. kita memang buka 24 jam”, jawabnya dengan ramah dengan sedikit logat Malaysia sambil menyodorkan selembar menu.
“Mau pesan apa Dik? Ada sate ayam, kambing, soto ayam”
Dalam hati kuberkata, “Yah ini mah mungkin bukan asli rasa Indonesia”, tapi kulihat harga-harganya di menu tidak mahal, sekitar 3-5 dolar. Ditambah saat itu aku merasa lapar sekali sebab mungkin sudah hampir 1 tahun aku tidak makan sate Indonesia. Di Singapura ada juga sate, tapi berbeda, sate sini mah rasanya seperti dendeng. Aneh pokoknya.

Kuputuskan untuk makan dahulu sebelum melanjutkan usaha mencari taksi untuk pulang. Kupesan seporsi sate dan soto ayam, dan sepiring nasi. Yang cukup surprise juga disitu terdapat teh botol! Wah canggih!

Sambil menanti pesanan, kualihkan pandangan ke sekeliling. Tempat makan ini sebenarnya merupakan tempat makan yang cukup besar, tapi stall-stall yang lain telah tutup.

“Hmm.. mengapa rajin sekali Bapak ini sampai membuka stallnya 24 jam disaat yang lainnya telah tutup”, kataku dalam hati.

Tidak berapa lama kemudian pesananku datang, diantar sendiri oleh sang Bapak… karena memang hanya ia seorang yang berjualan disitu.

“Silahkan Dik Fajar”, katanya sambil meletakkan pesananku sate ayam, soto ayam, nasi putih. Semuanya masih mengepul membangkitkan selera.

Tanpa sadar akupun segera mengambil sendok dan menyeruput kuah soto ayam di depanku.
“Hmm….”
Tidak kusangka-sangka, ternyata rasanya lezat sekali. Akupun segera mengambil sesendok penuh dan melahapnya. Kucicipin bumbu kacang satenya, ternyata tidak kalah lezatnya. Segera kusikat setusuk sate sambil sesuap nasi. Lezat sekali.

Sang penjual sate datang kembali sambil membawa teh botol.
“Ini teh botolnya. Pelan-pelan saja makannya, nanti bisa sakit perut sebelum sampai rumah di Little India lho”, katanya menasehati.

Saking lezatnya, aku tetap saja sibuk makan sate dan soto ayam di hadapanku. Memang lezat sekali sih, tapi ada sesuatu rasa mengganjal dalam hatiku. Apa yah… Oh, akhirnya aku tahu apa itu.. yaitu suasananya yang begitu sepi. Hanya terdengar ramai saja suara sendok dan garpuku yang beradu dengan piring. Selain itu tidak ada suara apa-apa lagi. Bahkan di jalan raya di depan tempat makan tersebut baru kusadari sedari tadi tidak ada kendaraan yang lewat satupun. Kulirik jam tangan, waktu telah hampir menunjukkan pukul 3 pagi.

“Mungkin sih memang jam segini sepi, tapi masak di Singapura bisa sesepi ini?”, pikirku dalam hati mulai bertanya.

Tiba-tiba sebersit pikiran membuat jantungku serasa copot. Keringat dingin dengan sekejap muncul di telapak tanganku. Perasaan merinding melingkupiku.

“Dari mana ia tahu namaku?! Dan juga tempat tinggalku?!”, pikirku dengan kaget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>