9. Sate.. soto ayam.. yang.. menegangkan (II)

Tiba-tiba susah sekali rasanya menelan makanan yang masih berada di dalam mulut saking gugupnya. Hampir saja aku tersedak.

Posisi dudukku adalah menghadap jalanan, jadi aku membelakangi stall tempat si Bapak penjual sate. Begitu aku berhenti makan, maka suasana senyap yang mencekam segera semakin melingkupiku. Kurasakan semilir angin lewat di punggung tanganku, angin yang membuatku merinding sebab terasa dingin yang tidak wajar.

Aku terpaku sambil tetap memegang sendok garpu. Jantungku berdegub dengan kencang, keringat dingin kini mulai muncul di dahiku.

“Dimanakah si Bapak?”, tanyaku dalam hati sebab aku tidak bisa mendengar suara apapun yang bisa menandakan sedang apa dia.

Dengan perlahan-lahan aku menengok ke belakang. Kuputuskan untuk segera membayar dan pergi dari situ. Kulihat si Bapak sedang berdiri di belakang counter stallnya. Ia menghadap ke dalam sehingga yang kulihat hanyalah punggungnya.

“Halo? Ehem…. Pak..”, tak terasa suaraku serak ketika berusaha memanggil si Bapak.

“Halo, permisi Pak”, ku ulangi dengan lebih kencang. Tapi tidak ada reaksi. Sang Bapak tetap saja berdiri membelakangiku. Kuperhatikan kepalanya sedikit tertunduk dan ada sedikit gerakan di bahunya.

Aku semakin merinding. Baru kuperhatikan sang penjual sate memakai kemeja putih lengan panjang. Kurasakan sangat tidak wajar. Masak berjualan sate memakai baju serapi itu?

Entah dapat kekuatan dari mana, tiba-tiba aku telah berdiri dan berjalan menghampiri sang penjual sate yang masih saja berdiri diam membelakangiku. Jantungku telah berdetak seperti sedang berlari. Tidak terasa aku mengepalkan tangan sambil berjalan. Mengumpulkan keberanian.

“Pak.. halo…”, kataku ketika sudah agak dekat. Tapi heran, sang penjual sate masih saja berdiri dengan kepala sedikit menunduk membelakangiku.

Suasana sunyi senyap yang mencekam itu benar-benar membuatku tidak tahan lagi. Tiba-tiba saja tangan kananku sudah bergerak ke depan. Aku bermaksud untuk menepuk bahu Bapak sang penjual sate.

Hampir saja tanganku menyentuh bahunya ketika tiba-tiba ia membalikkan badan ke arahku.
“Huaaaaaa!!”, kita berdua berbarengan berteriak dengan kerasnya karena kaget. Jantungku rasanya mau copot.

“Alamaaakkk! Dik! Mengapa tiba-tiba ada di belakang saya?”, kata sang Bapak dengan nafas terengah-engah sambil mengurut dadanya. Ia terlihat kaget sekali.

“Ma.. maaf Pak, saya tidak sengaja, habis saya panggil-panggil tidak …”
“Sebentar, Dik..”, tangan kanannya terlihat memegang sesuatu. Ia kemudian memasangnya ke telinganya.

Alisku berkerut berusaha mencerna apa yang kulihat.
“Oh.. Bapak pakai alat bantu dengar?”, tanyaku dengan tampang melongo.

“Iya Dik, kalau tidak pakai malah Bapak sudah sulit mendengar, katanya. Tadi Bapak sedang keasikan mengelap alat bantu dengar ini”
Ia melanjutkan, “Oh, maaf. Dik Fajar memanggil saya tadi? Perlu tambah nasi? Soto?”, tanyanya dengan simpatik.

“Oh, bukan Pak, cuma…”, aku berhenti ragu-ragu.. apakah sebaiknya kutanyakan apa tidak, tapi akhirnya kuputuskan untuk mencari jawabannya.

“Saya… cuma heran.., dari mana Bapak tahu nama saya?”, tanyaku sambil bersiap-siap bila ternyata reaksi yang kudapat adalah reaksi yang …. “Hiiii”, aku tidak berani membayangkannya.

“Oh.. hehehe…”, sang Bapak penjual sate terkekeh. Walaupun wajahnya masih terlihat setengah baya, tapi suara tertawanya seperti seorang yang telah tua sekali. Serak-serak dan berangin. Herannya kalau berbicara suaranya biasa saja, hanya tertawanya saja yang tidak lazim.

“Itu…”, katanya sambil menunjuk ke arah kantong bajuku.

Kuikuti arah telunjuknya ke bajuku. Dan kulihat di kantong bajuku terpasang dengan rapi badge kantorku dengan foto dan namaku terpampang dengan jelas.

Astaga! Mungkin karena banyak kerjaan aku jadi linglung begini sampai lupa mencopot badge kantorku.

“Oh.. “, hanya itu yang bisa terucap dari mulutku. Menyadari betapa konyolnya reaksiku sebelumnya sampai berpikiran macam-macam. Segera kucopot badge itu dan mengantonginya. Tapi aku masih tidak yakin, dari mana ia tahu aku tinggal? Dengan sedikit sikap keras kepala, aku berusaha melirik ke arah kaki si Bapak.
“Apakah kakinya menjejak tanah?”, kataku dalam hati. Tapi dari tempatku berdiri tidak berhasil kulihat.

“Tapi Pak, dari mana Bapak tahu bahwa saya tinggal di Little India?”, tanyaku masih penasaran dengan tatapan menyelidik. Kuperhatikan wajahnya. Warna wajahnya agak sedikit pucat tidak wajar bila dibandingan dengan warna punggung tangannya yang sawo matang. “Mungkin si Bapak kecapekan dan kurang tidur”, kataku dalam hati berusaha berlogika.

“Oh.. saya tidak tahu dimana Dik Fajar tinggal. Saya cuma menebak dari peta yang muncul di tas Dik Fajar itu”, katanya sambil menggerakkan kepala ke arah tas ranselku. Aku pun membalikkan badan dan ternyata memang aku lupa memasukkan peta lipat daerah Little India yang kupunya sehingga 1/2 peta menyembul di kantong samping tas.

Tiba-tiba saja semua kekhawatiranku hilang berganti kelegaan dan rasa malu. Kalau saja si Bapak tahu apa yang ada dalam pikiranku sebelumnya.

“Bagaimana Dik, mau tambah sesuatu?”
“Oh, tidak Pak. Ngga usah”, kataku sambil berjalan ke arah meja makan kembali. Kuputuskan untuk menyelesaikan hidangan sedap itu. Segala kelegaan itu dengan sekejap mengembalikan selera makanku.

“Ini Bapak tambahkan sotonya saja yah, biar jadi hangat lagi. Tadi ditinggal-tinggal pasti sudah dingin kuahnya”, sang Bapak penjual sate ternyata pengertian dan baik sekali.

Beberapa saat kemudian entah dari mana datangnya, tiba-tiba di kejauhan kulihat sebuah taksi akan lewat di depan jalan.

“Sebentar Pak”, kataku kepada sang Bapak penjual sate sambil bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arah jalan. Kulambaikan tanganku menyetop taksi.

Kuhabiskan teh botolku dan membayar hidangan sate dan soto yang lezat itu. Semuanya ternyata termasuk murah, sudah lengkap seperti itu hanya 8 dolar. Kuputuskan untuk kembali lagi minggu depan ah. Di rumah, istriku hanya tertawa ketika kuceritakan kekonyolanku itu sambil kemudian mewanti-wanti agar aku tidak tertidur lagi di dalam bis.

Seminggu kemudian aku bersama istri datang kembali ke tempat makan itu. Kali ini kita datang siang hari, suasana tempat makan cukup ramai oleh orang-orang. Tapi di sudut tempat stall sate kok terlihat sepi. Ketika dekat kulihat stall sate itu tutup, tapi yang sangat mengherankan, keadaan stall sate itu kusam seperti tidak terurus.

Kuhampiri seorang uncle yang sedang mendorong tempat piring.
“Excuse me, Uncle”
“Hmmm?”, jawabnya acuh.
“Excuse me, do you know when this stall opens?”, tanyaku sambil menunjuk ke arah tulisan “Original Indonesian Satay” yang kini kusam kondisinya, berbeda sekali dengan ketika seminggu lalu aku makan disitu.
“Cannot. Not anymore”, jawabnya sambil menggoyangkan kepala. Tiba-tiba sang uncle terlihat muram.
“Why uncle?”
“He died”
“Who?”
“Anwar.. the sole owner died. Three weeks ago. Accident. He cannot hear. Taxi hit. No family”

Aku hanya bisa melongo. Kulihat istriku. Wajahnya sama melongonya dengan aku.
Tiga minggu lalu?
Tapi…
Sate dan soto ayam itu… kelezatannya…
Minggu lalu…
Berarti…

Dalam hati aku berucap, “Terima kasih Pak Anwar, sate dan soto ayamnya lezat sekali. Terutama atas kebaikan hatimu. Selamat beristirahat dengan tenang disana”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>