10. Don’t worry, be happy. (I)

Udara pagi yang sejuk membangunkanku dari tidurku. Lelap sekali ternyata tidurku semalam. Dengan malas-malasan kubalikkan tubuhku ke sisi yang lain. Masih terlalu mengantuk rasanya.

Hari masih gelap, tapi dari tempatku tinggal dapat kulihat kesibukan sehari-hari mulai mengalir. Orang-orang mulai lalu lalang, semuanya dengan langkah cepat seperti sedang mengejar sesuatu yang penting. Aku tidak mengerti, hari masih pagi gelap, mengapa mereka melangkah secepat itu?

“Jangan usil ingin tahu urusan orang lain”, tiba-tiba aku teringat ucapan ibuku bertahun-tahun yang lalu.

Aku menghela nafas. Telah lama aku tidak bertemu dengan orang tuaku. Entah bagaimana kabar mereka sekarang. Ingin rasanya aku mencari kabar mengenai mereka tapi situasi dan kondisi belum memungkinkan. Dalam hati kuberjanji untuk segera meluangkan waktu untuk itu.

“Kruuukk…”, bunyi keroncongan dari perutku membuatku tersenyum sendiri. Ternyata pekerjaan semalam benar-benar melelahkan. Tanpa sadar kugerakkan salah satu kakiku dan sebersit rasa nyeri membuatku meringis.

“Reseh sekali tikus-tikus itu sekarang!”, omelku dalam hati, yang mana dalam sekejap pula aku teringat kembali pesan ibuku untuk jangan suka mengumpat.

Tapi memang tikus-tikus itu menyebalkan. Belakangan ini mereka semakin berani berkeliaran di depanku. Dan entah apakah karena mereka yang semakin cepat berlari atau aku yang telah semakin pelan karena usia, tapi rasanya semakin jarang aku dapat menangkap mereka. Seperti semalam, setelah beberapa kali usaha pangejaran, akhirnya terpaksa kuhentikan karena kakiku sakit terantuk kaki meja.

Kuperhatikan orang-orang yang lalu lalang di jalanan depanku. Nah itu dia, di seberang jalan kulihat seorang pemuda sedang bersiap-siap menyeberang jalan, bukan pemuda juga sih.., kutebak usianya kira-kira 30an. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari orang ini. Hanya saja aku hampir selalu tiap hari melihatnya di saat pagi masih gelap seperti ini, dan kemudian di malam hari ketika hari telah larut hampir tengah malam.

Dan yang lucu, kuperhatikan perawakannya. Beberapa bulan lalu ia boleh dibilang tergolong gemuk. Tapi sekarang kok jadi langsing? Seringkali kulihat ia menarik celananya dari kedodoran.

Ketika semakin dekat, seperti biasa kulihat ia memandangiku sambil tersenyum. Ia memang selalu begitu. Kelihatannya ia menyukaiku. Tapi dari pengalaman tidak baik untuk menghampiri orang yang tidak kita kenal. Mesti berhati-hati.

Tapi entah ada angin dari mana, tiba-tiba saja aku sudah berdiri dan berjalan menghampirinya. Pemuda itu terlihat sedikit terkejut dan berdiri terpaku di tempatnya. Setelah semakin dekat, dapat kulihat sinar matanya berbinar-binar. Terlihat masih agak sembab karena kantuk dan raut wajahnya menggambarkan masih ada rasa lelah tersisa. Tapi selain dari itu, yang dapat kurasakan adalah rasa antusias dan rasa… sayang yang memancar dari matanya. Ya, rasa sayang. Aku yakin sekarang bahwa ia benar-benar suka kepadaku.

Perlahan-lahan ia mengulurkan tangannya dan dengan lembut menepuk dan mengusap-usap kepalaku. Rasa senang menyelimutiku. Aku pun menggoyangkan ekorku dengan semangat. Telah lama sekali tidak kurasakan ada orang yang memancarkan rasa sayang seperti ini kepadaku.

Ia kemudian mengucapkan sesuatu yang aku tidak mengerti sambil merogoh kantungnya. Diambilnya sesuatu itu dan ditawarkannya kepadaku. Rasa lapar membuatku segera mengambilnya tanpa merasakannya dahulu. Tapi pada gigitan pertama langsung segera kubuang sesuatu itu dari mulutku.

“Permen rasa mint pagi-pagi begini?! Mau bikin sakit perut apa, mana lagi keroncongan”, omelku dalam hati.

Pemuda itu hanya tertawa sambil kembali menepuk-nepuk kepalaku. Sesaat kemudian iapun kembali melanjutkan langkahnya ke arah stasiun MRT sambil sekali-sekali masih menengok ke belakang melihatku.

“Guk!”, aku mengucapkan salam perpisahan kepadanya.

Aku menghela nafas, dan melirik ke arah pintu salah satu stall yang ada di food center di depanku. Tidak ada makanan. Biasanya sang uncle pemilik stall itu menaruh sepiring kecil makanan sisa jualanannya untukku. Ia juga penyayang binatang. Sebagai rasa terima kasih aku pun menjalankan tugas menjaga food center ini, terutama stall sang uncle dari gangguan tikus yang selalu muncul tiap malam dari dalam got.

“Tak apalah!”, kataku dalam hati. Aku pun mulai berjalan menyusuri jalan samping food center yang sepi dari orang. Udara sejuk pagi hari itu menerpa wajahku, memberikan kesegaran tersendiri. Suasana sudah mulai terang, sang surya mulai bekerja di ufuk timur, memancarkan sinarnya yang ibarat berwarna keemasan di pagi itu. Burung-burung jalak berpasang-pasangan mulai berjalan, melompat, mondar-mandir di mana-mana mencari makan. Aku pun tersenyum melihat telah mulainya kembali satu hari di kehidupanku. Kuusir segala rasa khawatir dari hatiku, dan kugantikan dengan kegembiraan sambil menggoyangkan ekorku. Guk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>