12. Don’t worry, be happy. (III)

Kuputuskan untuk keluar ruangan dan melihat apa yang terjadi. Ruangan server yang satu lagi berada di sebelah ruangan server tempatku sekarang, tapi pintu masuknya berada di ujung koridor, dan sekarang ini kondisinya gelap karena memang proses packing barang-barang disana telah beres dan karenanya lampu dimatikan. Aku sedikit ragu-ragu sebelum kumulai melangkah.

Dengan sedikit susah payah aku melangkah di antara tumpukkan kardus-kardus yang berisi komputer dan monitor yang tersusun agak tidak rapi di sepanjang koridor menuju ruang server sebelah.

Tiba-tiba diriku merinding, kurasakan hembusan angin dingin keluar dari dalam ruangan server. Sesampainya di depan pintu, segera kuraba-raba dinding sebelah kiri mencari saklar lampu dan segera kunyalakan begitu ketemu. Ruangan yang tadinya gelap segera menjadi terang benderang.

Alisku berkerut, ternyata AC ruangan server menyala. Padahal perasaan telah kumatikan tadi sore begitu selesai packing di ruangan ini. Kusapu seisi ruangan dengan pandangan. Kardus-kardus tersusun seperti ketika kutinggalkan. Tidak ada yang aneh.

“Hmm…”, kataku dalam hati. Sementara di otakku sedang terjadi perdebatan antara logika dan pikiran mistis.

Kumatikan AC dan kutinggalkan ruangan server sebelah itu. Kumatikan lampu dan segera kembali ke ruangan server utama. Kuperiksa proses backup dan ternyata telah selesai. Lega. Kulirik jam tanganku, hampir jam 23.00. Kutimbang-timbang apakah kukebut malam ini proses packing terakhir di ruangan server.

“Ah besok pagi aja deh terusin lagi, masih keburu”, kataku dalam hati sambil mematikan server terakhir itu. Karena memang saat itu aku telah capek sekali. Aku pun kembali ke meja kerjaku dan membereskan notebookku.

Sambil menggendong tas ranselku, akupun menuju pintu kantor. Di samping pintu terletak semua saklar lampu ruangan kantor. Siapapun yang pulang terakhir dari kantor, harus mematikan semua lampu lewat saklar itu.

Satu persatu saklar kutekan untuk mematikan lampu.

Meja resepsionis, “klik”
Area programmer bagian kiri, “klik”
… bagian kanan, “klik”
Ruang bersama, “klik”
Satu persatu bagian kantor itu menjadi gelap.

Ruangan marketing…

Ruangan marketing… tiba-tiba aku terpaku.

Yang membuatku terpaku adalah… di meja ujung sebelah dalam di ruangan marketing itu, kulihat ada seseorang duduk!

Ruangan marketing ini sebenarnya bukan ruangan yang total tertutup. Dari ruangan utama, kita bisa melihat ke dalamnya lewat jendela kaca besar yang membatasi ruangan marketing dan ruang utama. Tapi ruangan ini telah kosong beberapa bulan semenjak aku bergabung di kantor, sebab para marketing telah ditarik dahulu ke kantor pusat.

Aku tidak bisa melihat jelas siapa dia, sebab dari partisi yang ada, hanya terlihat rambut dan sedikit bagian kening. Dari model rambutnya rasanya seorang laki-laki.

“Halo..?”
“Who’s there?”, kataku kembali agak kencang.
Tidak ada reaksi.

Suara-suara di ruangan server sebelah, dan kini seseorang duduk di ruangan marketing yang mestinya sudah tidak terpakai lagi… Aku sering pulang jam 23.00 dan selama ini tidak pernah melihat kejadian seperti ini, mengapa sekarang bisa ada seperti ini? Apakah karena kita sudah mau pindahan kantor?

Aku merinding, teringat kisah pertemuan dengan “tukang sate” beberapa waktu lalu. Aku mengejap-ngejapkan mata untuk memastikan. Tapi pandanganku tetap melihat “ia”.

Kuputuskan untuk menghampirinya. Ruangan utama masih terang benderang, tapi di beberapa bagian telah gelap karena telah kumatikan lampunya. Entah mengapa, aku melangkah dengan pelan, jantungku mulai berpacu dengan cepat. Pandanganku terpaku padanya, sambil kembali beberapa mengejapkan mata untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat.

Tiba-tiba ia bergerak ke meja sebelah. Aku menghentikan langkahku, rasanya tidak percaya. Sebab dari posisiku berdiri, hanya sedikit rambutnya yang terlihat dan ia bergerak dengan mulus dari sebelah kanan meja ke bagian tengah, seolah-olah ia duduk di bangku beroda, tapi aku yakin tidak mungkin sebab bangku di kantorku tidak memakai roda.

“Halo?”, kataku sambil kembali melangkah. Sebenarnya ucapan itu juga sebagai cara untuk mengusir rasa merindingku.

Tidak ada reaksi.

Aku kini semakin dekat dengan ruangan marketing sambil pandanganku tetap melekat ke dalam ruangan marketing. Aku harus melewati sebuah pilar di tengah-tengah ruangan utama, dan karenanya pandanganku ke ruangan marketing terhalang. Dan ketika beberapa saat kemudian aku melewati pilar itu… kini tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan marketing!

Aku mengeluarkan handuk kecil yang selalu kubawa-bawa kemana-mana dari dalam kantungku, kubuka kaca mataku dan mengelap wajahku.

“Hmm… ada-ada aja deh”, kataku dalam sambil berjalan kembali ke arah pintu keluar. Aku pun mematikan semua lampu dan dalam kondisi gelap total sekejap itu, tiba-tiba di kejauhan dari arah ruangan server kudengar suara kardus jatuh.

“Gubrak!”

Tapi kali ini aku tidak menghiraukannya dan bergegas meninggalkan kantor sambil berjalan setengah berlari mengejar kereta terakhir.

….

Di dalam kereta aku tersenyum mengingat ketika pagi tadi akhirnya aku berhasil menepuk-nepuk anjing yang selalu kulihat ada di depan food center Bugis. Ia terlihat sangat senang dan baik. Aku memang menyukai anjing, kesetiaan dan keceriaan mereka selalu dapat menghapus rasa galau dalam hatiku. Pandangan mereka selalu seolah-olah berkata, “Don’t worry, be happy. I’m always here for you”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>