13. Ilmu Pengetahuan adalah Milik Bersama (I)

Jakarta, setahun yang lalu.

Macet! dan maceeeeet!
Satu dari sedikit hal yang kusebal dari Jakarta tercinta ini. Betapa tidak, perjalanan yang seharusnya tidak lebih dari 30 menit, bisa menjelma menjadi 2 jam bahkan lebih.

Mungkin sudah bertahun-tahun para ahli perencanaan kota dan entah berapa angkatan pejabat pemerintahan berusaha untuk menyelesaikan satu masalah ini, tapi tetap saja makin hari makin macet.

Hanya tinggal satu solusi yang masih bisa dipakai oleh para pengguna jalan, yaitu berangkat sepagi mungkin dan pulang secepat ataupun selarut mungkin. Tapi ini pun sebenarnya bukan solusi yang pasti, sebab ada saja kejadian-kejadian yang bisa membuat jalanan yang “semestinya” ga macet, tiba-tiba menjadi macet total, seperti mobil mogok, kecelakaan, banjir, pejabat lewat, dll.

Oleh karena aku seorang “commuter”, keren namanya, tapi maksudnya adalah seseorang yang mesti bolak-balik masuk-keluar Jakarta dari daerah pinggiran (Sentul), maka tiap hari kerja aku harus berangkat pagi-pagi buta sekitar jam 5.30 dari rumah. Pergi gelap, pulang gelap. Begitu orang-orang meledekku.

“Tiiiinnnnnn!”, kutekan klakson mobilku dengan kesal. Padahal aku tahu usaha itu sia-sia, sebab memang ruas tol Jagorawi selepas Cibubur itu sudah dalam kondisi super padat merayap. Pengemudi yang lainnya ikut-ikutan menumpahkan kekesalannya dengan membunyikan klakson, menambah kisruh suasana.

Kupindahkan radio ke stasiun lain untuk mencari tahu ada apa gerangan. Pas sekali sebab di stasiun lain sedang berlangsung traffic report, kudengar suara seorang perwira polisi dari Traffic Management Center Polda Metro Jaya yang telah akrab suaranya di telingaku.

“Baiklah rekan Regina, dapat kami laporkan traffic report pada pagi hari yang cerah ini..”, demikian sang perwira polisi yang ramah dan simpatik suaranya tersebut membuka laporan.

“Ruas tol Jagorawi arah Jakarta lepas dari Bogor terlihat masih lancar. Namun begitu…”

“Nah, ini dia”, kataku dalam hati ingin tahu ada apa gerangan selanjutnya sambil memperbesar volume radio.

“Ruas Jagorawi selepas Cibubur arah tol dalam kota saat ini dapat kami laporkan sedang terjadi kemacetan yang tidak seperti biasanya, rekan Regina…”

“Apakah ada kendaraan mengalami kendala atau kecelakaan, Pak?”, sang penyiar terdengar ingin tahu juga sehingga memotong pembicaraan.

“Ya benar, rekan Regina. Dari laporan awal yang kami terima dari rekan-rekan di lapangan, ada sebuah truk trailer yang patah as pas sebelum pintu tol Taman Mini”

“Apakah sudah ada petugas di lokasi kejadian, Pak?”

“Dapat kami laporkan, bahwa rekan-rekan dari PT. Jasa Marga telah berada di lokasi dan saat ini sedang membantu kelancaran arus lalu lintas sambil menunggu datangnya mobil derek yang lebih besar. Demikian rekan Regina.”

“Kami menghimbau para pengendara agar tetap sabar dan tertib demi keselamatan bersama, demikian rekan Regina. Baiklah selanjutnya kami laporkan….”

Aku memindahkan channel ke stasiun radio lain mencari lagu. Terus terang saat itu aku cukup stress sebab kalau macet saja mungkin tidak apa-apa karena memang sudah biasa. Tapi pagi itu aku harus mengajar Linux di sebuah lembaga.

Pukul sudah menunjukkan 7.45 ketika akhirnya aku berhasil melewati truk trailer reseh tersebut. Aku yakin kuping si pengemudi trailer gatal sebab banyak pengemudi lain yang mengumpat karena kesal.

Selepas dari titik itu, jalanan tol lancar dan para pengemudi langsung tancap gas. Akupun tidak ketinggalan, sebab memang selain pelampiasan kekesalan, aku juga tidak mau terlambat. Maka mobilpun kupacu dengan kencang.

Mobilku sebenarnya bukan mobil buat balap-balapan. Picanto tahun 2005 yang kukendarai ini tidak pernah di kilik-kilik mesinnya. Semuanya standar, mulai dari body, asesori, sampai ban, semuanya standar. Tapi tetap saja, ketika kutekan pedal gas dalam-dalam, kulirik angka di speedo meter hampir menyentuh 110km/jam. Kurasakan mobil agak goyang, tapi tetap kutambah kecepatan.

Aku mengambil jalur kanan jalanan. Tapi dasar mobil kecil. Sekencang-kencangnya Picanto, tidak sebanding dengan kecepatan mobil lain yang ber-cc besar. Kulirik di belakangku ada sebuah Kijang Innova menyalakan lampu dimnya berkali-kali memintaku untuk memberikan jalan.

Akupun memasang lampu sein ke kiri sambil mulai menggeser kemudi ke kiri. Tapi tiba-tiba dari belakang Innova itu muncul sebuah sedan yang menyalip dari arah kiri. Rupanya mereka sedang balap-membalap.

Jantungku rasanya mau copot ketika di kaca spion kulihat mobil sedan itu melaju dengan cepat ke arahku.

Di detik-detik itu, dengan jantung yang rasanya mau copot, dengan posisi mobil yang baru berada di tengah-tengah jalan, di kanan kulihat Innova sudah menggeber gasnya untuk menyalipku. Untuk masuk ke jalur kiri mendadak tidak mungkin, sebab di depan kulihat sebuah Avanza berjalan dengan pelan.

Maka akupun mengambil keputusan nekat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>