14. Ilmu Pengetahuan adalah Milik Bersama (II)

Maka akupun mengambil keputusan nekat…

Kutekan pedal gas sedalam-dalamnya sampai mentok. Mesin mobil meraung-raung seakan-akan protes akan tindakanku itu. Kurasakan G-Shock ke arah belakang. Tanganku semakin erat memegang kemudi dan kurasakan mobilku semakin bergetar dan tidak stabil.

Tindakanku ini membuat sedan yang ada di belakangku tidak lagi “mendekat” dengan cepat, sebab memang perbedaan kecepatan antara dua mobil kita menjadi tidak terlalu jauh.

Kulirik speedo meter telah menyentuh titik 130km/jam .. 135km/jam..
Namun begitu, Avanza yang ada di sampingku tentunya lebih cepat lagi. Dengan laju yang cukup kentara, ia mendahuluiku.

“Gila! Berapa kecepatannya?”, ujarku dalam hati.

Melihat tindakanku ini, sedan yang ada di belakangku menyalakan lampu dimnya berkali-kali sambil membunyikan klakson. Kelihatannya ia kesal karena keberadaanku membuatnya tidak berhasil menyalip Avanza. Dengan gerakan yang ugal-ugalan, ia mengambil jalur kanan dan mulai menggeber gas untuk menyusul Avanza yang kini telah berada 10-20 meter di depan.

Dengan laju yang lebih cepat lagi dari Avanza, ia mendahuluiku. Ketika ia telah berada di depanku, samar-samar kulihat si pengemudi mengangkat tangan kirinya ke arah spion tengah dan memberikan tanda “Fck” dengan jari.

“Eh, reseh banget!”, tiba-tiba aku jadi emosi.
Kugeser kembali mobil ke jalur kanan dan berusaha mengejar sedan itu. Kulirik kecepatan telah mencapai 140km/jam. Kurasakan mobil seperti telah melayang ketika kugeser ke kanan tadi.

Tapi secepat-cepatnya Picantoku, kulihat Avanza dan sedan itu telah berada cukup jauh di depan. Beruntung aku segera sadar akan bahaya yang mengintai. Kejadian ini mungkin cuma berlangsung selama 30 detik, tapi bila di detik-detik itu salah satu ban pecah, tidak dapat kubayangkan betapa ngerinya…

Menyadari hal ini, perlahan-lahan kulepas pedal gas menurunkan kecepatan sambil memasang lampu sein ke kiri. Masih ada rasa kesal di hati mengingat ledekan si pengemudi sedan, tapi segera kuhapus dengan helaan nafas panjang.

Tidak berapa lama kemudian kembali kuhadapi kepadatan lalu lintas selepas pintu tol Taman Mini. Kulirik jam di dashboard telah menunjukkan 8.00.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ugh, dari kantor, pasti mereka sedang menanti-nantikan aku sebab memang rencana kita adalah berangkat ke tempat mengajar bersama-sama marketing menggunakan taksi dengan membawa buku-buku material training dan snack untuk peserta pada jam 8.00. Trainingnya sendiri dimulai pukul 9.00, tapi biasa karena kemacetan Jakarta kita harus berangkat lebih awal untuk berjaga-jaga.

“Halo?”
“Halo, pagi Pak Fajar. Sudah ada dimana nih?”, kudengar suara Mbak Yuli rekan kantorku bertanya. Kurasakan ada nada urgensi di suaranya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>