15. Ilmu Pengetahuan adalah Milik Bersama (III)

“Sudah mau masuk tol dalam kota nih”, jawabku sambil berharap semoga jalanan tidak terlalu padat.

“Tadi ada truk mogok jadi macet. Kira-kira 20 menit lagi saya sampai”

“Oh, iya deh Pak”

Kantorku berada di daerah Tebet. Aku ragu-ragu antara keluar tol Cawang atau masuk ke tol dalam kota, sebab memang kondisi kedua pilihan ini tidak bisa diprediksi. Kadang macet, kadang lancar.

Akhirnya dengan metode tebak manggis, kupilih keluar Cawang. Beruntung kali ini tebakanku benar, jalanan relatif lancar.

Memasuki lapangan parkir depan kantor, kulihat Mbak Yuli dan Maria telah berdiri menunggu di samping taksi biru. Pukul 8.25. Aku pun cepat-cepat memarkir mobil dan bergegas menuju mereka sambil seperti biasa menggendong tas ranselku yang berisi notebook dan buku diktat training.

“Maaf saya terlambat”, jawabku sambil tergopoh-gopoh.
“Ga apa-apa, Pak”, kata Maria, rekan marketing kantor sambil membuka pintu taksi.
“Kita berangkat yah, Mbak Yuli”, aku masuk duduk di depan, sebab memang di bangku belakang penuh dengan tas-tas berisi materi training dan snack.

“Kemana Bu?”, kata sopir taksi sambil mulai menjalankan mobil keluar parkiran.
“Ke gedung B di Thamrin, yang cepat yah Pak”, jawab Maria sambil menggeser tumpukan kardus snack.

“Komputer-komputernya mestinya sudah siap, Pak. Tinggal dipakai, bekas training kelas minggu kemarin”, kata Maria membuka pembicaraan.

“Oh iya, kata Pak T sih memang begitu”, jawabku dengan nada senang, sebab walau training yang akan kulakukan berbeda dengan training minggu kemarin di tempat yang sama oleh rekan kantorku yang lain, tapi bila komputernya sudah siap, hal itu cukup mempermudah proses persiapan kelas.

Kuperhatikan si Bapak sopir. Telah cukup berumur. Di tanda pengenal pengemudi di dashboard terlihat sebuah gambar bintang, tanda bahwa ia seorang kepala grup.

“Sudah lama jadi sopir di BB ini Pak?”, tanyaku iseng-iseng.

“Sudah lebih dari 20 tahun, Mas”, jawab si Bapak dengan sopan. Walaupun umurnya jelas jauh di atasku tapi ia masih sempat memakai panggilan Mas kepadaku. Betapa sopannya. Memang patut diacungkan jempol kedisiplinan dan keramahan para pengemudi perusahaan taksi BB ini, terutama para sopir seniornya.

“Cukup lama juga yah Pak. Pasti banyak pengalamannya yang unik-unik”

“Boleh dibilang begitu, Mas. Mulai dari mau dirampok, diminta dicarikan jajanan oleh turis-turis, penumpang melahirkan, sampai penumpang yang tidak jelas alias hantu”, kata si Bapak sambil tersenyum lebar.

“Ah, Bapak bisa saja pagi-pagi mau nakutin orang”, celetuk Maria dari bangku belakang.

“Lho…, Mbak aja takut, apalagi saya waktu itu”, jawabnya sambil melirik kebelakang lewat kaca spion.

Taksi melaju dengan cepat di tengah-tengah kepadatan lalu lintas Jakarta yang bisa bikin orang senewen itu, tapi terlihat sekali pengalaman dan keahlian sang bapak pengemudi taksi mengatasi semua itu.

“Sejak kejadian itu, saya sempat minta ganti jadwal kerja beberapa minggu”, si bapak sopir melanjutkan tanpa diminta. Entah karena memang ia mau sharing untuk melepas beban, atau ia iseng mau menakut-nakutin kita.

“Memang kejadiannya seperti apa Pak?”, tanyaku terjebak rasa ingin tahu sambil memandang ke samping ke bapak sopir. Kulirik Maria mengerutkan alis tanda protes, sebab memang ia terkenal penakut di kantor.

“Waktu itu saya sedang mengantar seorang penumpang dari daerah Pejompongan menuju Tebet…”

“Malam-malam, Pak?”

“Iya, kira-kira dini hari, saya sedang dapat jadwal kalong” (*kalong = jadwal sopir taksi yang bekerja dari malam sampai pagi hari)

“Trus Pak?”, kataku semakin tertarik.

“Selang beberapa lama, saya lihat penumpang saya itu tertidur. Mungkin kecapekan, tapi saya biasa mendapat penumpang seperti itu, nanti kalau sudah dekat tujuan saya bangunkan”

“Entah kenapa, mendekati terowongan Casablanca perasaan saya mendadak tidak enak. Saya biasa melewati daerah itu, jadi mestinya sudah hapal luar dalam, tapi entah kenapa tiba-tiba saya merasa melewati jalanan asing yang belum pernah saya lewati, tapi saya tahu itu tidak benar”

“Selepas terowongan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang lain pada mobil, terasa seperti berat”

“Mungkin kempes, Pak”, jawabku beranalisa.

“Saya juga berpendapat begitu, jadi saya pinggirkan mobil dan berhenti untuk mengecek. Saya berjalan sekeliling mobil memeriksa ban satu persatu, tapi semuanya dalam kondisi normal”

“Saya jalankan kembali mobil, kali ini terasa laju seperti biasa. Tapi tiba-tiba saya merinding. Saya mencium sesuatu yang aneh… ada wangi melati…”

“Dan yang paling bikin saya hampir pingsan waktu itu …”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>