16. Ilmu Pengetahuan adalah Milik Bersama (IV)

“Dan yang paling bikin saya hampir pingsan waktu itu … dari kaca spion tengah saya lihat di bangku belakang ada seorang wanita berambut panjang. Pandangan matanya sayu tertuju ke bawah”

“Belum hilang kaget saya, tiba-tiba ia memandang saya dengan pandangan yang sangat mengerikan!”

“Sontak saya panik setengah mati dan mobilpun oleng, hampir menabrak trotoar. Dengan rem mendadak saya menghentikan mobil”

“Penumpang saya sampai terbangun dan bertanya-tanya ada apa. Ketika saya melirik kaca spion dan menolehkan kepala melihat ke bangku belakang, hanya penumpang saya itu yang ada. Saya pun mengambil alasan bahwa saya menghindari kucing di jalan dan tidak menceritakan apa yang baru saja saya lihat”

“Aduh, bapaakkk! Please deh. Jangan dilanjutkan ceritanya!”, protes Maria dengan sungguh-sungguh.

“Iya, maaf Mbak. Saya juga amit-amit deh jangan sampai ketemu gituan lagi”, kata sang bapak sopir, setengah minta maaf, setengah senang karena ceritanya berhasil membuat orang lain seram juga.

Aku hanya tersenyum, walau sebenarnya agak merinding juga membayangkan kejadian yang dialami sang bapak sopir tadi.

Aku sebenarnya antara percaya dan tidak mengenai hal-hal mistis seperti ini. Kuingat beberapa minggu lalu Mbak Yuli menaruh segelas kopi di bawah meja paling pojok di ruang kelas yang biasa kutempati. Katanya itu atas instruksi boss, sebab dia sempat beberapa kali memergoki “seseorang” tidak dikenal duduk di meja pojok itu di pagi hari ketika belum ada orang lain di kantor. Aku malah menggoda Mbak Yuli akan tindakannya itu.

Tidak terasa taksi pun sampai di tujuan. Pukul 9.00. Kami pun bergegas mengeluarkan barang-barang dari mobil dibantu pak sopir.

“Kita langsung ke lantai 11 Pak”, ajak Maria. Aku dan Maria masing-masing membawa barang bawaan di kiri kanan. Mbak Yuli telah mengatur ikatan barang-barang tersebut sehingga bisa dibawa oleh kami masing-masing dengan praktis, walaupun buku-buku diktat training yang kubawa itu terasa cukup berat.

Kami menghampiri meja sekuriti di lobby.

“Selamat pagi”, kata Maria kepada seorang Satpam yang berperawakan sangar dengan kumis lebat melintang.

“Selamat pagi, Bu”, jawab sang sekuriti, ternyata suara dan pandangan matanya ramah sekali, berlawanan dengan bawaannya yang sangar.

“Kami ingin ke lantai 11, sudah janji dengan Pak A dari ..(nama lembaga).. untuk training”

“Silahkan tinggalkan KTP dan pakai Visitor ID ini, Bu”

Sesampainya di lantai 11, ternyata Pak A dan para peserta training telah menunggu di dalam kelas.

Melihat kami datang, Pak A berdiri dan menghampiri.

“Selamat pagi, Pak. Maaf kami terlambat”, kata Maria sambil mengulurkan tangan bersalaman.

“Tidak apa-apa, Mbak. Kita juga baru saja ngumpul kok”

“Kenalkan ini Pak Fajar yang akan mengajar selama 5 hari ini”

“Selamat pagi Pak, apa kabar?”, kataku sambil bersalaman.

“Halo Pak Fajar, saya senang sekali akhirnya kita bisa bertemu lagi”, kata Pak A sambil menjabat tanganku dengan erat dan tersenyum lebar.

“Oh iya, Bapak kan pernah ikut kelas Pak Fajar yah beberapa bulan lalu”, kata Maria.

“Ohhhh.. iya yah?”, timpalku ragu-ragu. Aku memang sulit mengingat nama dan wajah orang. Perlu waktu lama baru bisa hapal.

“Ini buku-buku training dan snacknya, Pak”, kata Maria kepada Pak A.

“Ok, mari saya bantu membagikannya Mbak”

Sementara mereka mulai bergerak dari meja ke meja, aku pun ke meja instruktur di depan dan mulai menghidupkan server yang ada di bawah meja. Sambil menunggu server hidup, aku mengeluarkan notebookku dan memasangnya ke LCD proyektor yang telah disediakan.

Selang beberapa saat, baru kuperhatikan bahwa layar monitor server tetap gelap. Dan ada tulisan “DISK BOOT FAILURE. NO SYSTEM FOUND. PLEASE INSERT SYSTEM DISK”

“Lho..? Katanya servernya bekas dipakai training minggu lalu?! Mestinya sudah terinstall Linux”, tanyaku dalam hati dengan kaget.

Sementara itu Maria dan Pak A telah selesai membagikan buku dan snack, dan kini mereka menghampiriku.

“Bagaimana, Pak? Bisa kita mulai trainingnya?”, tanya Pak A dengan tersenyum, tapi sejurus kemudian kulihat ia agak mengerutkan alisnya ketika dilihatnya layar monitor server gelap seperti itu. Kulihat Maria yang berdiri di sebelahnya bahwa ia pun menangkap ada yang tidak beres.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>