17. Ilmu Pengetahuan adalah Milik Bersama (V)

“Ada masalah, Pak?”, tanya Maria dengan nada biasa, tapi dari expresi wajahnya dapat kulihat kekhawatiran. Dapat kupahami sih, sebab kita telah terlambat dan para peserta telah menunggu.

“Hmm.. servernya sepertinya belum ada OS-nya”, jawabku sambil mencoba merestart server sekali lagi. Tetap error yang sama.

Kulirik jam tangan telah menunjukkan pukul 9.20.

“Tapi kata Pak T mestinya sudah terinstall bekas kelas minggu lalu, Pak. Biar saya coba telpon dia”, nada Maria berubah menjadi gemas.

“Wah, jadi perlu diinstall dahulu, Pak? Perlu waktu berapa lama? Kita tidak apa-apakan lho servernya sehabis training minggu kemarin”, kata Pak A.

Melihat gerak-gerik kekisruhan di depan, beberapa peserta mulai saling celetuk.
“Wah, mendingan gue ngopi-ngopi dulu tadi”
“Gue apalagi, ada laporan yang urgent nih”

Melihat server memang harus diinstall ulang dan hal ini akan memakan waktu cukup lama, aku pun mengambil keputusan.

“Maria, ga usah telpon Pak T”
“Bisa pakai notebook saya servernya. Kebetulan saya memang menyiapkannya untuk hal-hal emergency seperti ini. Cuma agak berat jalannya di notebook saya.”

“Lho, bisa Pak?”, tanya Pak A sambil menghampiri notebookku.

“Iya Pak, saya menyimpan sebuah Virtual Machine dengan settingan sama seperti server yang mau kita pakai”, jawabku sambil login.

“Wow! Ubuntu terbaru yah Pak, canggih amat visual efeknya”, ujar Pak A dengan suara agak keras. Benar-benar terkejut sepertinya beliau ini.

Beberapa orang peserta ikut-ikutan maju ke depan ingin ikut melihat. Suasana menjadi ramai.

“Baiklah Pak, sebaiknya kita mulai trainingnya”, kataku sambil berdiri dan memberikan tanda agar para peserta kembali ke meja masing-masing.

“Ok, silahkan Pak. Saya ingin membicarakan sesuatu dahulu dengan Mbak Maria”, mereka pun keluar ruangan kelas. Aku menghantar mereka sambil kemudian menutup pintu kelas.

Kembali ke meja instruktur, dengan tetap sambil berdiri kupandang para peserta yang bervariasi tersebut. Ada 20 orang. Kutatap wajah-wajah mereka. Pria wanita. Beberapa terlihat masih muda, beberapa tersenyum dengan pandangan yang antusias, beberapa terlihat acuh tak acuh, satu orang terlihat seperti sedang berpikir keras dengan wajah stress.

“Baiklah. Selamat pagi Bapak Ibu. Saya ingin mohon maaf atas sedikit gangguan teknis tadi. Sebelumnya perkenalkan nama saya Fajar Priyanto. Selama 5 hari ini kita akan training mengenai Linux khususnya penggunaan Desktop Linux Suse Enterprise”

“Tentunya Bapak Ibu telah paham yang namanya Microsoft Windows yang berfungsi sebagai Operating System komputer kita, nah Linux ini juga sama fungsinya.”

“Kalau sama fungsinya, kenapa kita mesti pakai Linux Pak? Kata teman saya Linux itu susah! Capek-capekin aja!”, tiba-tiba dari bangku belakang seorang yang berwajah stress tadi berinterupsi. Beberapa peserta lain terlihat mengangguk-angguk tanda setuju.

“Walau sama fungsinya, Linux memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri. Perlu Bapak Ibu ketahui, saya sebelumnya adalah orang Windows. Saya baru mengenal Linux tahun 2001. Siapa disini yang menjadi admin Windows Server?”

Beberapa orang mengangkat tangan. Hmm.. ternyata Pak A mengikutkan juga beberapa orang administrator. Padahal kelasnya ini untuk user desktop.

“Waktu itu ceritanya saya sedang chatting malam-malam. Di channel chatting saya lihat beberapa teman sedang sombong-sombongan. Yang satu berkata, ‘Eh, server gue udah 5 bulan ga direstart lho.’ Yang satunya lagi menimpali, ‘Ah, gitu aja sombong loe, server gue udah setahun lebih ga gue restart, sampe gue lupa loginnya apa!’”

“Melihat hal ini saya pun menjadi tertarik, sebab dari pengalaman, server Windows 2000 saya setiap 3 bulan mesti direstart sebab sudah menjadi lambat sekali. Saya tanya, ‘Emang loe pake Windows service pack brapa?’”

“Oh, ini bukan windows bro. Ini Linux!”

“Dalam hati saya bertanya-tanya, ‘Linux? Apaan tuh?’ Saya pun ber-yahoo. Jaman itu belum ada google. Oh.. ternyata Linux itu operating system juga.”

“Saya pun membeli Redhat 7.3 dari internet dan mencoba menginstallnya. Dan benar seperti yang Bapak bilang, Linux itu susah!”

“Tuh kan!”, ujarnya.

Aku menghampiri notebookku dan mulai mendemokan Ubuntu 8.04-ku. Efek visual compiznya pun segera beraksi, terpancar dengan jelas dari LCD projector ke layar putih di depan.

“Itu dulu, Pak. Sekarang ini Linux dapat dikatakan sudah sangat user friendly”, jelasku sambil pula menjalankan program-program seperti OpenOffice.org untuk aplikasi office, Firefox untuk browsing internet, Pidgin untuk instant messaging, Gimp untuk aplikasi grafis.

Dan ketika kudemokan Virtual Desktop di Ubuntu dengan menggerakkan window dari satu desktop ke desktop yang lain, dan juga berpindah-pindah desktop dengan efek rotating cube, beberapa peserta kontan berseru.

“Waaaahhhh!”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>