18. Ilmu Pengetahuan adalah Milik Bersama (VI)

Dalam hati aku tersenyum. Demo visual efek Linux memang selalu berhasil membuat orang kagum, terutama bagi yang memiliki persepsi dalam pikirannya bahwa Linux itu susah dan jelek. Apalagi memang semua produk Microsoft, sampai Windows Vista yang terbaru belum bisa menampilkan visual efek seperti itu.

“Ok, cukup dahulu intermezzonya. Silahkan Bapak Ibu menghidupkan komputer masing-masing dan sambil menunggu komputer booting, kita buka buku trainingnya.”, kataku sambil mengatur window Virtual Machine Linux Suse-ku.

“Lho Pak, jadi kita ndak belajar Linux seperti yang Bapak pakai? Kenapa bisa ada banyak Linux?”, tanya seorang Ibu peserta.

“Pertanyaan yang bagus sekali, Bu”, akupun membuka file PDF trainingku yang berisi materi bikinanku sendiri untuk menjelaskan hal-hal seperti ini.

“Sama seperti program komputer lainnya, Linux pun memiliki lisensi. Lisensi yang digunakan adalah GNU GPL, panjangnya General Public License. Tentunya Bapak Ibu sekarang ini sering mendengar istilah Open Source, bukan? Ataupun istilah Indonesia Goes Open Source atau IGOS.”

“Iya Pak, benar juga. Tapi sebenarnya ga terlalu nangkep apa sih itu Open Source?”

“Begini, katakanlah program-program seperti Microsoft Word, Excel, dan juga Windows. Apakah kita bisa melihat sumber kodenya (source code)? Apakah kita bisa menambahkan/mengubah fitur-fiturnya? Tidak bisa. Sebab Microsoft tidak membukanya untuk publik, ia merahasiakan source codenya. Ini disebut program close source.”

“Di layar dapat Bapak Ibu lihat poin-poin inti dari lisensi GPL. Yaitu:
1. Semua orang berhak melihat source codenya
2. Semua orang berhak mengubah source codenya
3. Semua orang berhak mendistribusikan hasil perubahannya itu
Dan yang ke-4, ini yang terpenting juga,
4. Program hasil perubahannya itu juga harus menggunakan lisensi GPL.”

“Yang disebut ‘Linux’ ini sebenarnya adalah ‘kernel’ atau inti dari sebuah operating system yang dibuat oleh Linus Torvalds di tahun 90an. Kemudian kernel ini digabungkan dengan program-program dari GNU project dan proyek open source lainnya, jadilah ia sebuah operating system yang lengkap.”

“Ntar detail dari sejarah Linux bisa Bapak Ibu baca-baca di buku diktat yah.”

“Nah, karena Linux itu memakai lisensi GPL open source ini, semua orang berhak mengubah-ubahnya dan menciptakan Linuxnya sendiri.”

“Tapi Pak, apa ga masuk akal? Kalau semua program disediakan source codenya secara bebas terbuka, darimana seorang programmer bisa mendapat makan? Ini kan sama aja seperti pembajakan. Orang bikin capek-capek, tapi kemudian dipakai dan diubah oleh orang lain.”

“Kita mungkin berpikiran begitu, Pak. Tadi percayalah, di dunia ini banyak programmer-programmer yang beridealis tinggi, dimana ia ingin memajukan kesejahteraan umat manusia dengan mensharing source code programnya kepada semua orang. Mungkin terdengar naif, tapi dibalik itu, secara profesional, bila seorang programmer berhasil membuat sebuah program yang dipakai oleh ratusan ribu orang di dunia, bukankah hal ini merupakan sebuah kebanggaan dan bukti nyata bahwa ia seorang programmer yang handal? Pasti ia tidak kesulitan mencari pekerjaan.”

Beberapa peserta terlihat mengangguk-angguk mulai memahami konsep open source ini dan mulai terlihat antusias.

“Kembali kenapa kita belajar Linux Suse dan tidak Ubuntu, ini cuma masalah pilihan. Kebetulan Linux Suse ini memang ditujukan untuk penggunaan corporate dan materi trainingnya pun telah established. Tapi nanti kalau Bapak Ibu mau, saya bisa mengkopikan Linux Ubuntu ini untuk dicoba-coba”

“Wah mau dong Pak!”

“Ok, kalau begitu di pool di Bapak…”

“Ramadhan, Pak. Saya.”

“Pak Ramadhan, iya, ntar saya copykan juga deh sekalian Linux-linux yang lainnya biar bisa memilih yang cocok buat masing-masing.”

“Asyiiikkk… Thanks Pak Fajar”, celetuk beberapa orang.

Kami pun memulai training hari itu. Ketika para peserta sedang sibuk mengerjakan tugas dari buku diktat, aku mengambil kesempatan untuk mengambil nafas sambil duduk di meja instruktur. Cukup capai juga, ditambah “gangguan teknis” tadi.

Tiba-tiba masuk sebuah SMS dari Pak T.
“Pak Fajar, mohon maaf, lupa bilang. Jumat kemaren sehabis training servernya saya format. Disuruh boss.”

“Lha.., kenapa ga bilang-bilang. Padahal dia jelas-jelas tahu akan ada kelas minggu ini.”

“Hmm… “, dalam hati aku maklumi saja deh. Memang dalam hidup ini tidak semua teman adalah teman. Nah, apalagi itu artinya. Hehe..

Tidak terasa waktu cepat berlalu, dan training hari itu pun selesai.

“Kita lanjut besok yah Bapak Ibu”, kataku sambil mematikan LCD projector dan berkemas-kemas.

“Iya Pak, silahkan duluan, nanggung nih.”, kata Pak Ramadhan. Beberapa peserta lainnya juga terlihat masih serius mengutak-utik Linux mereka.

Di dalam taksi yang mandek terjebak kemacetan Jakarta kuruntut kembali kejadian selama mengajar tadi.

Sebenarnya aku tidak menyangka bisa menjadi instruktur, sebab memang pada dasarnya aku adalah pribadi yang pemalu dan pendiam. Bila sedang berkumpul bersama teman-teman, aku sulit untuk mencari topik pembicaraan. Untuk berkenalan dengan orang-orang baru pun sulit, karena sifat pemaluku itu.

Tapi entah kenapa, bila di depan orang banyak, justru aku tidak merasa gugup. Seperti sebuah paradoks. Dan kebetulan aku suka mengajar, jadi pas deh.

Mungkin mengajar ini merupakan salah satu passionku yang sebenarnya. Ketika mengajar, aku merasakan diriku tertantang untuk memberikan yang terbaik bagi para peserta. Bagaimana membuat mereka antusias dan tertarik terhadap materi yang mereka pelajari. Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sejelas-jelasnya menggunakan bahasa yang mudah. Dengan mengajar pula otomatis aku mendapatkan wawasan dan pengetahuan-pengetahuan baru, sebab ada kalanya peserta bertanya dari sudut pandang yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

Aku sungguh menyukai mengajar. Seperti kata pepatah, “Do what you like, and like what you do, and you will never have to work in your life.”

Ilmu Pengetahuan adalah Milik Bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>