9. Sate.. soto ayam.. yang.. menegangkan (II)

Tiba-tiba susah sekali rasanya menelan makanan yang masih berada di dalam mulut saking gugupnya. Hampir saja aku tersedak.

Posisi dudukku adalah menghadap jalanan, jadi aku membelakangi stall tempat si Bapak penjual sate. Begitu aku berhenti makan, maka suasana senyap yang mencekam segera semakin melingkupiku. Kurasakan semilir angin lewat di punggung tanganku, angin yang membuatku merinding sebab terasa dingin yang tidak wajar. Continue reading

7. Doa syukur di antara bintang-bintang

Pukul telah menunjukkan lewat tengah malam ketika aku sampai di “rumah”. Rumah disini maksudnya adalah sebuah unit apartemen HDB (Home Development Board). Walaupun namanya apartemen, tapi bukan seperti pengertian apartemen di Indonesia yang serba mewah. HDB disini adalah unit-unit apartemen sederhana. Bila yang dimaksud adalah apartemen yang mewah, disini disebut sebagai condominium. Continue reading

5. Arti sebuah perjalanan bernama kehidupan (I)

Bunyi warning low-batt notebookku membuyarkan lamunanku. Tidak terasa waktu telah hampir pukul 23.00. Kutatap catatan-catatan, sticky notes, dan laporan-laporan yang berserakan di meja kerjaku. Kuputuskan untuk meneruskan beberapa di rumah. Segera kututup notebookku dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Akupun bergegas meninggalkan kantor dengan sebelumnya mematikan semua lampu. Continue reading

4. Keberuntungan = Persiapan + Kesempatan = Anugrah

Dengan tangan sedikit dingin karena grogi dan menghela nafas panjang, kujawab handphoneku.
“Halo….?”

“Hello, Mr. Priyanto?”, terdengar suara seorang laki-laki di ujung telpon dengan logat asia.
“Yes, this is Fajar speaking”, jawabku dengan suara se-PD mungkin. Continue reading

2. Halo..? Yes..?

Pikiranku berkelebat mengingat ketika pertama kali mendapat telpon dari bagian recruitment.

Siang itu seperti biasa aku sedang menikmati gado-gado langganan depan kantorku. Boleh dibilang hampir tiap hari aku makan gado-gado. Bukan apa-apa, pertama memang rasanya enak banget, relatif murah (Rp. 6.000 lengkap pakai telor dan nasi), sehat (sayur-mayur), dan gampang belinya. Saking sudah rutinnya, cukup angkat tangan dari seberang jalan tanpa berkata apapun, si abang sudah tahu pesananku yang super pedas dan akan diantar ke kantor. Continue reading

1. Pada awalnya

Tak terasa telah 10 bulan aku merantau di Singapura. Disebut sebagai salah satu dari 3 city-state yang tersisa di dunia selain Monaco dan Vatican City. Irama kehidupan disini terasa cepat, semuanya serba efisien dan tanpa basa-basi. Bisa menjadi culture shock bagi siapapun yang baru disini. Walaupun masih termasuk dalam area Waktu Indonesia Barat, tapi Singapura menganut jam GMT+8, sehingga jam 7 pagi masih gelap, dan jam 7 malam masih terang. Terasa aneh awalnya. Continue reading